Belajar dari Kasus Sevel: Memprediksi Kebangkrutan Perusahaan Berdasarkan Ilmu Ekonomi

seven eleven
Gambar oleh kaskus.com

Oleh: Diah Ayu Suci Kinasih, blogger/penulis di saintif.com

Bulan Juni kemarin kita diramaikan oleh kasus penutupan Gerai Seven Eleven (Sevel) telah hadir di Indonesia sejak 2009 lalu. Wirlaba yang berbasis di Dallas, Texas, Amerika Serikat itu dikelola oleh PT Modern Putra Indonesia (MPRI). Sejak pertama kali, gerai Sevel tumbuh dan berkembang. Gerai terkenal dan di senangi anak muda. Awalnya Sevel mempunyai 1 gerai pada tahun 2009, kemudian naik secara signifikan hingga 190 unit pada tahun 2014. Namun perlahan mulai susut pada tahun 2016 lalu menjadi 175 unit. Susutnya jumlah gerai ini mempengaruhi kinerja induk perusahaan Sevel, PT Modern Internasional Tbk (MDRN). Di kuartal III – 2016, penjualan anjlok mencapai 31 persen dari 962,80 miliar menjadi 660,67 miliar. Sementara itu sepanjang tahun lalu, perseroan juga mengalami kerugian sebesar 162,02 miliar. Hingga tanggal 30 Juni 2017 kemarin, seluruh gerai Sevel di Indonesia resmi di tutup. Sevel hanya bertahan sekitar 8 tahun di Indonesia.

Hal tersebut bukan satu-satunya yang pernah terjadi di Indonesia, kasus serupa juga terjadi pada perusahaan yang bergerak dalam bidang industri teknologi Toshiba dan Panasonic di Indonesia. Akibatnya 2500 karyawan tekena pemutusan Hubungan Kerja (PHK) pada tahun 2016. Penutupan ini diakibatkan karena terimbas dari lesunya penjualan produk elektronik perusahaan asal jepang tersebut.

Lantas apakah yang menyebabkan hal tersebut, Apakah kita tidak dapat mengantisipasi kejadiaan tersebut?

Beradasarkan ilmu ekonomi, kemungkinan kebangkrutan dapat diprediksikan dengan mengamati Continue reading

Advertisements