Mulai Darui Merangkak

ya benar  sekali kata, pak budi rahard ini. kalau ingin populer ya butuh waktu dan usaha. pertama harus diawali dengan merangkak. memulai semuanya dari awal, susah pasti. iya susah. saya juga begitu dalam menulis blog terutama. entah sekarang intensitas penulisan saya malah semakin menurun dan topik-topiknya juga tidak terlalu menarik lagi..
tapi ya biarlah yang penting saya berusaha buat istiqomah nulis nya… hehe.
baca punyanya pak rahard ini… bagus kok

Mulai Dari Merangkak

Membaca berita akhir-akhir ini dan mengamati di sekeliling saya, fenomena ingin cepat sukses nampaknya kental sekali. Orang ingin bisa ini dan itu dalam waktu singkat. Banyak yang ingin sukses, sekarang juga! Ya, kalau sekedar ingin saja sih tidak apa-apa. Namun jangan kecewa jika keinginan dan kenyataan berbeda.

Memulai sebuah usaha harus dimulai dari bawah. Menguasai sebuah ilmu atau keahlian juga harus dimulai dari belajar. Untuk berlari harus dimulai dari berjalan. Sebelum itu harus merangkak dahulu. Dalam bidang apa saja sama juga. Mau jago main musik, olah raga, menulis, ngeblog, pidato, memimpin, kecuali tidur, semuanya harus dimulai dari “merangkak”.

Ini semua tentunya membutuhkan waktu dan usaha. Waktu untuk setiap orang berbeda. Ada yang ordenya harian atau bulanan. Ada yang tahunan dan bahkan belasan tahun. Namun soal usaha, semua orang yang sukses berusaha secara serius. Tanpa usaha, ya waktunya bisa molor sampai tiada ujungnya. Heran saja melihat orang yang maunya minimal dalam berusaha, tetapi mau dapat hasil maksimal. he he he.

(Catatan kaki. Kalau web Anda ingin populer, ya butuh waktu dan usaha. Tidak bisa dengan modal ndompleng saja.)

 

Advertisements

Kisah Einstein & Eddington

“Oh leave the Wise our measures to collate
One thing at least is certain, light has weight
One thing is certain and the rest debate
Light rays, when near the Sun, do not go straight.”
-Sir Arthur Eddington-

Suasana aula Cambridge sepi dan tegang, orang-orang berkumpul menunggu hasil penelitian yang menentukan bukan saja untuk sains, tapi untuk harga diri bangsa (untuk beberapa orang). Sir Eddington melangkah pasti membawa 2 plate fotografi pemotretan gugus bintang Hyades. Satu diambil di Inggris dan satu lagi diambil di Pulau Principe, lepas pantai barat Afrika, kala gerhana matahari total.

Today we will become the witness of scientific breakthrough gentleman, please be seated.

Semua orang memilih tempat duduknya dan beberapa menghentikan pembicaraan mereka dengan kolega di belakang tempat duduknya. Semua mata memandang Sir Eddington memasang dua plate yang akan menentukan nasib ilmuwan pencetus gravitasi hampir 300 tahun yang lalu, yang merupakan pujaan bangsa Inggris, Sir Isaac Newton. Hari ini mereka akan menyaksikan, apakah teori yang bertahan selama 300 tahun itu akan tetap bertahan atau gugur oleh perhitungan ilmuwan tak terkenal, asosial, bahkan lahir di negara musuh mereka saat itu, Jerman. Ilmuwan itu bernama Albert Einstein.

Dua plate yang diambil dari dua lokasi berjauhan dan pada kondisi yang sama tersebut disatukan. Apabila Newton benar, maka foto bintang di dua lokasi tersebut akan sama. Dan sebaliknya, jika Einstein dengan perhitungan di khayalannya (Der Gedankexperiment), maka cahaya bintang di Afrika Selatan, yang mengalami gerhana matahari, akan dibelokkan. Dan terdapat gap, antara dua titik di foto.

Light bended by gravity??? What kind of nonsense this German scientist proposed?” sebagian ilmuwan Inggris bergumam menunggu Eddington selesai memasang 2 plate itu.

Eddington melihat 2 plate yang disatukan. Ia memfokuskan lensa objektif untuk melihat gugus Hyades di samping prominence matahari di kala gerhana. Ia ragu sejenak. Teringat ia akan tulisan di jurnal hariannya di Pulau Principe tertanggal 29 Mei 1919:

The rain stopped about noon and about 1.30… we began to get a glimpse of the sun. We had to carry out our photographs in faith. I did not see the eclipse, being too busy changing plates, except for one glance to make sure that it had begun and another half-way through to see how much cloud there was. We took sixteen photographs. They are all good of the sun, showing a very remarkable prominence; but the cloud has interfered with the star images. The last few photographs show a few images which I hope will give us what we need…

Sambil membetulkan kacamatanya, sekali lagi ia lihat lebih teliti. Ia angkat kepalanya dan berkata:

A gap! Einstein!!!

Suasana Aula berusia lebih dari 500 tahun itu senyap. Beberapa menganggukkan kepala, beberapa menatap heran, beberapa berdiri, menghentak dan bergegas ke luar ruangan. Seorang Englishman, Eddington, membuktikan teori ilmuwan musuh negaranya yakni seorang Jerman, Einstein, untuk mengoreksi ilmuwan besar negaranya sendiri, Newton.

Banyak orang mengira sains adalah bidang arogan yang hanya berisi orang-orang di menara gading. Seringkali, saya bertemu orang yang melihat sains sebagai sesuatu yang berat.

Well I can’t blame them all. Sering juga saya bertemu orang yang mengaku saintis tapi tidak menggunakan logika mereka untuk berpikir. Saintis atau ilmuwan bukanlah mahasiswa yang lulus dari MIPA saja. Saintis bisa orang-orang dari tiap profesi asalkan mereka menggunakan metode sains untuk berpikir mereka. Liat dulu permasalahan, ajukan pertanyaan, buat percobaan, atau cari data mengenai jawaban pertanyaan dan tarik kesimpulan. Eddington membuktikan ia merupakan saintis sejati dengan tidak bias. Baik bias dalam hal nasionalime sempit, atau bias mengakui hasil karya Einstein sebagai karyanya sendiri.

Sulit memang, memisahkan ego manusia dan idealisme saintifik. Saya teringat suatu kata-kata yang saya lupa kapan dan di mana membacanya.

Pertama,

Dokter itu boleh bohong, tapi tidak boleh salah
karena kalau pasien mau meninggal besok, dokter biasanya akan menenangkan. Akan tetapi dokter hampir tidak boleh salah    mendiagnosis.

Kedua,

Ilmuwan itu boleh salah, tapi tidak boleh bohong.”
Hasil data penelitian boleh saja tidak sesuai teori di buku. Namun, tampilkan apa adanya dan jangan diubah. Salah data, kurvanya nggak bagus atau datanya ngacak? Nggak ada tuh, justru kesalahan sering membuka penemuan baru.

Ketiga

Politikus itu boleh salah boleh bohong!!
No offense to politician, but reality bites sometimes.”

Kembali ke Eddington, Einstein, dan Newton. Apakah setelah dibuktikan dengan percobaan, teori gravitasi Newton menjadi tak berguna? Bisa iya, bisa tidak. Pada kondisi normal (consider yourselves about what is a normal condition) teori Newton berlaku, tapi pada kondisi ekstrem, relativitas Einstein merajai. Einstein “hanya” memoles Newton sedikit untuk fenomena yang tak dapat dijelaskan oleh mekanika klasik Newton. Rangkaian pengetahuan sambung-menyambung ini, seperti yang dikatakan Stephen Hawking ketika ditanya mengapa ia sangat jenius oleh wartawan, adalah: “Because I’m standing on the shoulder of giant.”

Karena penelitian ilmuwan sebelum masanya, Hawking bisa merumuskan persamaan gravitasi di dalam black hole dan terus menyempurnakan teori Einstein dengan TOE (Theory Of Everything) yang masih dikerjakannya.

Setelah pembuktian teori relativitas umum oleh Eddington, Einstein menjadi terkenal dan mendunia. Jerman yang baru saja kalah perang dunia pertama, seolah mendapat kebanggan sendiri di tengah kedukaan dan inflasi yang menghebat.

Eddington sendiri? Seperti juga penarik layar untuk pertunjukan, ia tenggelam dalam nama besar Albert Einstein. Mengapa ia rela membuktikan teori orang lain dan menekan bias pendapatnya sendiri? Ilmuwan yang baik selalu mencari kebenaran pada data eksperimen. Ketika science board Cambridge menanyakan maksud Eddington untuk membuktikan teori seorang Jerman, kesetiaanya pada Inggris Raya diragukan. Ia ditanya apakah ia bisa objektif? Eddington berkata, “With my respect Sir, I’m built with it“.

Pras Dianto (@kamentrader)
Biology teacher of Zenius Education
https://www.zenius.net/blog/150/im-built-with-it

Bumi Tere Liye

Apapun yang terlihat, boleh jadi tidak seperti yang kita lihat. 
Apapun yang hilang, tidak selalu lenyap seperti yang kita duga. 
Ada banyak sekali jawaban dari tempat-tempat yang hilang. 
Kamu akan memperoleh semua jawaban . 
Masa lalu, hari ini, juga masa depan.

Memahami Titik Keridhoan Suamii

Wisata Muslimah

Selasa, 15 Maret 2016

Tema : Memahami Titik Keridhoan Suami

Pemateri : Ustadzah Nailul Izzah

Pernikahan adalah menyatukan dua pribadi yang berbeda, yang belum sempurna dan sama-sama ingin menyempurnakan separuh aagamanya.

Hal-hal yang harus di persiapkan :

  1. Niat

Niat akan mempengaruhi seluruh aktivitas di dalam sebuah pernikahan, serta niat akan selalu di ujikan maka dalam perjalanan pernikahan niat harus selalu kita luruskan.

  1. Siap menerima kekurangan pasangan

Jangan menuntut perubahan yang berlebihan pada pasangan. Tuntutan ini bukan hanya kepada tuntutan material, tetapi dari segi ibadah dalam menjaankan syariat islam. Perubahan seharusnya dilakukan dan diproses setahap demi setahap sehingga tidak muncul ketidaksiapan pasangan, yang akhirnya menyebabkan gejolak-gejolak  dalam rumah tangga.

  1. Selalu mengiringi pernikaghhan dengam doa

Doa akan menjadi penuntun dan penyemangat agar kebaikan selalu tercurah dalam pernikahan

Menurut H.R Nasa’i dan imam ahmad, ciri-ciri wanita sholihah antara lain:

  1. Menyenangkan jika di pandang suami

Dalam hal ini yang akan di jadikan tolak ukur adalah siapa yang memandang, yakni suami kita. Menyenangkan baik secara fisik (wajah selalu tersenyum berseri, pakaian rapi, bersih, wangi ) dan menyenangkan secara keperibadian (tidak malas-malasan, energik dan membangun komunikasi yang menyenangkan dengan suami)

  1. Menaati jika di perintah suami

Seseorang perempuan tidak bisa taat pada suami, apabila jika ia tidak taat kepada Allah. Namun, taat juga tidak boleh berlebihan. Karena tiada ketaatan kepada makhlukdalam kemaksiatan kepada Allah.

  1. Bisa menjaga harta dan kehormatan jika di tinggal pergi

Tujuannya dalah untuk meringankan beban suami, sehingga suami bisa fokus dalam bekerja

Cataatan:

Titik keridhoan setiap suami berbeda-beda, jangan membandingkan dengan suami orang lain.

 

Kekasih

“Ketika itu aku tertahan,
Inikah wajah Tuhan yang menjelma dirimu?
Atau engkau hanya bagian kecil dan kecantikan Tuhan?
Tak terbayangkan bila mana aku bertemu dengan Tuhan,
Bertemu denganmu saja audah begini jadinya

Kekasih
Biarlah ku bisa menyapamu lewat
Senandung doa
Agar untukmulah segala kebaikan
Agar bersamamulah segala keindahan

Aku akan tetap mencintaimu
Walau orbit kita berbeda,
Karena ku tahu bukan engkaulah ynag menciptakan orbit
Dan bukan kehendak aku mengorbit

Aku ingin rinduku abadi, kekasih
Jika aku merindu dan bertemu dengan mu
Maka terobatilah rinduku ini.
Oleh karena itu aku tak ingin bertemu dengan mu
Agar kerinduanini tak terobati dan semakin menjadi

Jika aku mencintaimu karena rupa
Bagaimana aku mencintai Tuhan ku yang tanpa rupa?
Jika aku merindukanmu tanpa pertemuan, bagaimana aku merindu Tuhanku yang di dunia ini
Aku tidak pernah bertemu dengan-Nya?

Ya Rob,
Jika rindu adalah jalanku bertemu dengan-Mu
Maka rindukanlah aku pada-Mu
Karena obat dari segala kerinduan
Hanyalah pertemuan”

‪#‎KutipanBukuKekasih‬
‪#‎SpecialEdition‬
‪#‎ImamHanafi‬

SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan

Komentari

10 Karakter Seorang Muslim [Bagian 2]

Catatan Mentoring
26 Februari 2016
Murobbi : Mbak Alfi
Tempat:Majid Al-Kautsar FSM UNDIP

  1. Mutsaqqoful Fikri (intelek dalam berfikir)

Mutsaqqoful fikri merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang juga penting. Karena itu salah satu sifat Rasul adalah fatonah (cerdas). Al Qur’an juga banyak mengungkap ayat-ayat yang merangsang manusia untuk berfikir, misalnya firman Allah yang artinya:

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan”. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir” (QS. Al-Baqarah [2]: 219)

Di dalam Islam, tidak ada satupun perbuatan yang harus kita lakukan, kecuali harus dimulai dengan aktifitas berfikir. Karenanya seorang muslim harus memiliki wawasan keislaman dan keilmuan yang luas.

Allah SWT berfirman yang artinya:

Katakanlah: “samakah orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui?”‘, sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”. (QS. Az-Zumar [39]: 9)

 

  1. Mujahadatul Linafsihi (berjuang melawan hawa nafsu)

Mujahadatul linafsihi merupakan salah satu kepribadian yang harus ada pada diri seorang muslim karena setiap manusia memiliki kecenderungan pada yang baik dan yang buruk. Melaksanakan kecenderungan pada yang baik dan menghindari yang buruk amat menuntut adanya kesungguhan.

Kesungguhan itu akan ada manakala seseorang berjuang dalam melawan hawa nafsu. Hawa nafsu yang ada pada setiap diri manusia harus diupayakan tunduk pada ajaran Islam. Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

“Tidak beriman seseorang dari kamu sehingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran Islam)” (HR. Hakim)

  1. Harishun Ala Waqtihi (pandai menjaga waktu)

Harishun ala waqtihi merupakan faktor penting bagi manusia. Hal ini karena waktu mendapat perhatian yang begitu besar dari Allah dan Rasul-Nya. Allah SWT banyak bersumpah di dalam Al Qur’an dengan menyebut nama waktu seperti wal fajri, wad dhuha, wal asri, wallaili dan seterusnya.

ALLAH SWT memberikan waktu kepada manusia dalam jumlah yang sama, yakni 24 jam sehari semalam. Dari waktu yang 24 jam itu, ada manusia yang beruntung dan tak sedikit manusia yang rugi.

Oleh karena itu setiap muslim amat dituntut untuk pandai mengelola waktunya dengan baik sehingga waktu berlalu dengan penggunaan yang efektif, tak ada yang sia-sia. Maka diantara yang disinggung oleh Nabi SAW adalah memanfaatkan momentum lima perkara sebelum datang lima perkara, yakni waktu hidup sebelum mati, sehat sebelum datang sakit,muda sebelum tua, senggang sebelum sibuk dan kaya sebelum miskin.

  1. Munazhzhamun fi Syuunihi (teratur dalam suatu urusan)

Munazhzhaman fi syuunihi termasuk kepribadian seorang muslim yang ditekankan oleh Al Qur’an maupun sunnah. Oleh karena itu dalam hukum Islam, baik yang terkait dengan masalah ubudiyah maupun muamalah harus diselesaikan dan dilaksanakan dengan baik. Ketika suatu urusan ditangani secara bersama-sama, maka diharuskan bekerjasama dengan baik sehingga Allah  menjadi cinta kepadanya.

Dengan kata lain, suatu urusan mesti dikerjakan secara profesional. Apapun yang dikerjakan, profesionalisme selalu diperhatikan. Bersungguh-sungguh, bersemangat, berkorban, berkelanjutan dan berbasis ilmu pengetahuan merupakan hal-hal yang mesti mendapat perhatian serius dalam penunaian tugas-tugas.

  1. Qodirun Alal Kasbi (memiliki kemampuan usaha sendiri/mandiri)

Qodirun alal kasbi merupakan ciri lain yang harus ada pada diri seorang muslim. Ini merupakan sesuatu yang amat diperlukan. Mempertahankan kebenaran dan berjuang menegakkannya baru bisa dilaksanakan manakala seseorang memiliki kemandirian terutama dari segi ekonomi. Tak sedikit seseorang mengorbankan prinsip yang telah dianutnya karena tidak memiliki kemandirian dari segi ekonomi.

Karena, pribadi muslim tidaklah mesti miskin, seorang muslim boleh saja kaya bahkan memang harus kaya agar dia bisa menunaikan ibadah haji dan umroh, zakat, infaq, shadaqah dan mempersiapkan masa depan yang baik. Oleh karena itu perintah mencari nafkah amat banyak di dalam Al Qur’an maupun hadits dan hal itu memiliki keutamaan yang sangat tinggi.

Dalam kaitan menciptakan kemandirian inilah seorang muslim amat dituntut memiliki keahlian apa saja yang baik. Keahliannya itu menjadi sebab baginya mendapat rizki dari Allah SWT. Rezeki yang telah Allah sediakan harus diambil dan untuk mengambilnya diperlukan skill atau keterampilan.

  1. Nafi’un Lighoirihi (bermanfaat bagi orang lain)

Nafi’un lighoirihi merupakan sebuah tuntutan kepada setiap muslim. Manfaat yang dimaksud tentu saja manfaat yang baik sehingga dimanapun dia berada, orang disekitarnya merasakan keberadaan. Jangan sampai keberadaan seorang muslim tidak menggenapkan dan ketiadaannya tidak mengganjilkan.

Ini berarti setiap muslim itu harus selalu berfikir, mempersiapkan dirinya dan berupaya semaksimal untuk bisa bermanfaat dan mengambil peran yang baik dalam masyarakatnya. Dalam kaitan ini, Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain” (HR. Qudhy dari Jabir)

Demikian secara umum profil seorang muslim yang disebutkan dalam Al Qur’an dan Hadits. Sesuatu yang perlu kita standarisasikan pada diri kita masing-masing.

10 Karakter Muslim [Bagian 1]

Catatan Mentoring
26 Februari 2016
Murobbi : Mbak yuli
Tempat:Majid Al-Kautsar FSM UNDIP

Al-Qur’an dan Hadits adalah dua pusaka Rasulullah SAW yang harus selalu dirujuk setiap muslim dalam segala aspek kehidupan. Satu dari sekian aspek kehidupan yang sangat penting adalah pembentukan dan pengembangan pribadi muslim.

Pribadi muslim yang dikehendaki Al-Qur’an dan sunnah adalah pribadi yang saleh. Pribadi yang sikap, ucapan dan tindakannya terwarnai oleh nilai-nilai yang datang dari Allah SWT.

Persepsi atau gambaran masyarakat tentang pribadi muslim memang berbeda-beda. Bahkan banyak yang pemahamannya sempit sehingga seolah-olah pribadi muslim itu tercermin pada orang yang hanya rajin menjalankan Islam dari aspek ubudiyah-nya saja.

Padahal, itu hanyalah salah satu aspek saja dan masih banyak aspek lain yang harus melekat pada pribadi seorang muslim. Bila disederhanakan, setidaknya ada sepuluh karakter atau ciri khas yang mesti melekat pada pribadi muslim.

  1. Salimul Aqidah (Aqidah yang bersih)

Salimul aqidah merupakan sesuatu yang harus ada pada setiap muslim. Dengan aqidah yang bersih, seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada ALLAH SWT. Dengan ikatan yang kuat itu dia tidak akan menyimpang dari jalan dan ketentuan-ketentuanNya.

Dengan kebersihan dan kemantapan aqidah, seorang muslim akan menyerahkan segala perbuatannya kepada Allah.

“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku, semua bagi ALLAH tuhan semesta alam” (QS. Al-An’aam [6]:162).

Karena aqidah yang bersih merupakan sesuatu yang amat penting, maka pada masa awal da’wahnya kepada para sahabat di Mekkah, Rasulullah SAW mengutamakan pembinaan aqidah, iman dan tauhid.

  1. Shahihul Ibadah (ibadah yang benar)

Shahihul ibadah merupakan salah satu perintah Rasulullah SAW yang penting. Dalam satu haditsnya, beliau bersabda:

“Shalatlah kamu sebagaimana melihat aku shalat”.

Dari ungkapan ini maka dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan setiap peribadatan haruslah merujuk kepada sunnah Rasul SAW yang berarti tidak boleh ada unsur penambahan atau pengurangan.

  1. Matinul Khuluq (akhlak yang kokoh)

Matinul khuluq merupakan sikap dan perilaku yang harus dimiliki oleh setiap muslim, baik dalam hubungannya kepada Allah SWT maupun dengan makhluk-makhlukNya. Dengan akhlak yang mulia, manusia akan bahagia dalam hidupnya, baik di dunia apalagi di akhirat.

Rasulullah SAW diutus untuk memperbaiki akhlak dan beliau sendiri telah mencontohkan kepada kita akhlaknya yang agung sehingga diabadikan oleh Allah SWT di dalam Al Qur’an. Allah berfirman yang artinya:

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak yang agung” (QS. Al-Qalam [68]:4).

  1. Qowiyyul Jismi (kekuatan jasmani)

Qowiyyul jismi merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang harus ada. Kekuatan jasmani berarti seorang muslim memiliki daya tahan tubuh sehingga dapat melaksanakan ajaran Islam secara optimal dengan fisiknya yang kuat. Shalat, puasa, zakat dan haji merupakan amalan di dalam Islam yang harus dilaksanakan dengan fisik yang sehat dan kuat. Apalagi berjihad di jalan Allah dan bentuk-bentuk perjuangan lainnya.

Karena itu, kesehatan jasmani harus mendapat perhatian seorang muslim dan pencegahan dari penyakit jauh lebih utama daripada pengobatan. Karena kekuatan jasmani juga termasuk hal yang penting, maka Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

“Mukmin yang kuat lebih aku cintai daripada mukmin yang lemah. (HR. Muslim)