Deliberate Practice Latihan Menjadi Expert

Posted on Updated on

Deliberate Practice.png

Kamu pasti pernah merasa kan, udah belajar tapi nggak paham-paham sama konsep pelajarannya.  Udah belajar tapi nggak ada peningkatan kemampuan sama sekali. Mungkin ada yang salah tuh sama sistem belajarnya.

Diartikel ini bakal ngebahas sistem belajar dengan cara  Deliberate Practice. Dimana Deliberate Practice  adalah  Belajar terus menerus dengan cara yang bener. Jadi, aktivitas latihan yang di rencanakan  secara hati-hati untuk meningkatkan performance dan mencapai tujuan spesifik tertentu.

Istilah ini mulai  di kenalkan oleh Anders Ericsson, seorang peneliti dari Florida State University yang menghabisakan  sebagian besar hidupnya untuk meneliti para expert, apa yang mereka lakukan untuk menjadi para expert.

Kadang pengertian tentang Deliberate Practice itu dianggap sama aja dengan Practice biasa. Padahal beda banget.  Kesalahan umum yang terjadi tentang Deliberate Practice adalah Jika ingin menguasai bidang tertentu yang kita harus melakukannya secara terus-menerus. Untuk mencapai penguasaan pada bidang tertentu, kita harus berlatih dengan cara yang tepat.

Anders Ericsson dalam bukunya The Role of Deliberate Practice in the Acquisition of Expert Performance mengenalkan elemen-elemen yang perlu ditempuh dalam melakukan deliberate practice.

Latihan yang terencana

Pada dasarnya latihan dalam deliberate practice di desain secara khusus buat ningkatin kemampuan kita. Sebelum membuat target atau sasaran yang jelas terhadap apa yang ingin kita kuasai. Dengan adanya target yang jelas kita bakal lebih Fokus dengan hal yang ingin kita improve.

Misal target kamu pengen jadi pemain sepak bola, penulis atau menguasai pelajaran tertentu sepeti Fisika dan Matematika. Setelah kita punya target tertentu, rencanakan latihan yang bakal kita lakukan.

Pengulangan Berkali-kali

Hal penting dalam melakukan deliberate practice adalah adanya latihan yang berulang-ulang kali. Contohnya di musik. Ada aktivitas yang bisa diulang berkali-kali, disebut fingering. Dimana latihan  jari agar  terbiasa sama scale-scale tertentu. Jadi kalau mencet scale itu, jari kita mainin alat musik itu sampe lincah banget. Semakin sering  melakukan hal itu, maka kita bakal semakin jago.

Dalam artikelnya Ericsson pernah menyebutkan  kalau biasanya seseorang  membutuhkan butuh total  10.000 jam latihan untuk bisa jadi seorang ahli. Malcolm Gladwell  dalam bukunya Outliers menyebut ini 10.000 hours rule.

Namun pengulangan saja, tidak akan membuat kita menguasai bidang tertentu.  Kita harus membandingkan hasil pengulangan yang sudah ada dengan standar yang sudah ditetapkan. Menemukan kesalahan-kesalahannya, lalu memperbaikinya. Dan disinilah pentingnya suatu umpan balik.

Aktivitas Deliberate Practice itu nggak begitu menyenangkan

Salah satu hal yang harus kita mengerti adalah bahwa melakukan hal bernama deliberate practice itu nggak begitu menyenangkan. Dalam menjalani deliberate practice, kita harus menjalani latihan berkualitas dengan terus-menerus meningkatkan tingkat kemampuan kita. Dengan aturan 10.000 jam yang diberikan oleh Ericsson. hal tersebut akan terasa membutuhkan waktu yang begitu lama. Kita harus memaksakan diri kita untuk menjalani hal tersebut.

Oleh karena itu, kita perlu memiliki motivasi  yang cukup untuk melakukan deliberate practice. Tanpa motivasi yang cukup, kita dapat bosan dan menyerah di tengah jalan. Salah satu caranya adalah dengan menemukan alasan yang kuat untuk melakukan sesuatu.

Selain itu dalam melakukan deliberate practice juga Membutuhkan mental yang tinggi. kamu harus mempunyai fokus yang tinggi dan konsentrasi yang tinggi. jadi lupakan sejenak semua masalah dan pikiran yang lain saat melakukan deliberate practice, sehingga kita bisa fokus.

Ada Feedback

Dalam melakukan deliberate practice ada hal penting yang perlu di perhatikan yaitu adanya feedback atau timbal balik yang bagus dari latihan tersebut. Dengan adanya feedback ini kita bakal yahu apakah latihan yang selama ini kita lakukan sudah efektif atau belum. Jika belum dibagian mana kita harus memperbaikinnya. Dari feedback ini lah yang nantinya akan memberikan arahan kepada kita.

Namun, untuk mendapatkan umpan balik tersebut kita harus menemukan sebuah standar untuk dibandingkan. Standar tersebut bisa berupa lokasi atau kondisi yang sama untuk menguji efek tindakan yang berbeda;  atau bisa juga dengan membandingkan pilihan kita dengan pilihan yang sudah diambil oleh para ahli dalam bidang tersebut. Pelajaran yang ditarik dari perbandingan itulah yang disebut dengan pelajaran sebenarnya, dan merupakan kunci dari deliberate practice.

Dalam beberapa kejadian kadang kita sering tidak paham dengan apa yang seharusnya kita capai. Oleh karenanya kita memerlukan seorang mentor  yang tentunya sudah lebih ahli dibandingkan kita. Dimana mentor ini akan menjadi pembimbing kita, mengarahkan dan memberikan umpan balik terhadap pencapaian kita.

Salah satu contoh terbaik dari melakukan deliberate practice  dengan kekuatan umpan balik adalah Benjamin Fraklin. Ketika dia ingin belajar menjadi penulis yang baik, dia belajar dari artikel-artikel yang diterbitkan Spectator, sebuah majalah terkenal dari inggris kala itu. Dia akan memilih dan membaca artikel yang disukainya. Beberapa hari kemudian, dia mencoba menulis ulang artikel tersebut dengan kata-katanya sendiri. Lalu dia membandingkan dengan artikel aslinya untuk menemukan kesalahan-kesalahan yang dibuatnya. Melalui umpan balik itu, Benjamin Franklin menjelma menjadi salah satu penulis Amerika Serikat terbaik pada masanya.

Jadi, yuk mulai sekarang kita coba belajar yang bener dengan menggunakan Deliberat Practice, agar kita expert dalam bidang keahlian kita masing-masing.

Pastinya ketika kita ingin benar-benar menguasai suatu bidang tertentu, ya harus mau bersusah dulu dong ya. Bersusah-susah dahulu bersenang-senang kemudian. Haha

Referensi:

Cara Belajar Benar dan Tepat Deliberate Practice https://www.zenius.net/blog/3251/cara-belajar-benar-tepat-efektif-deliberate-practice

Bedanya Deliberate Practice dengan Practice yang Lain https://www.zenius.net/blog/3251/cara-belajar-benar-tepat-efektif-deliberate-practice

Buku Ketika Mozart Kecil Memainkan Jari Jemarinya, Bagaimana Mencetak Genius yang Bahagia.

 

Advertisements

One thought on “Deliberate Practice Latihan Menjadi Expert

    Diah Ayu Suci Kinasih responded:
    27 July 2017 at 1:53 pm

    juga dibikin note Fecebook https://www.facebook.com/diahayusucikinasih hihi

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s