“Matahari Untuk Aray” [cerita tak sempurna]

Posted on Updated on

Hujan lagi-lagi menguyur planet ini, planet yang baru saja ku huni beberapa bulan lalu. Rumah bagi jutaan makhluk hidup yang menghuninya. hujan memberikan harapan dan kehidupan baru bagi kehidupan di bawah tanah. Dan beginilah hujan yang selalu membawa sejuta pertanyaan padaku, membawa kebahagiaan dan kesedihan. Langkah ku gontai, aku berjalan di sepanjang jalan kecil menuju ruangan kelas. Terasa berat, hampir seperti aku menyeret kaki yang di tali sangat  kuat. Aku ori, seorang gadis pendiam “kata temanku”. Walapun dulu aku tidak seperti ini,  namun akhirnya  kenapa aku menjadi seorang yang seperti ini.

Mataku tersudut, melihat sebuah pohon yang katanya, merupakan pohon tertua di halaman sekolah ini. Besar dan rimbun ada beberapa bangku kecil dan ayunan yang di gantungkan begitu tinggi disana. Tempat ini begitu nyaman, pikirku. Namun  apakah ini akan tertap bertahan seperti ini. Argh.. mungkin iya. Toh jika nanti tempat ini semakin memburuk pada akhirnya orang-orang di planet ini pun akan bereksplansi dan mencari planet baru bukan? Sama seperti aku dulu. Meninggalkan teman-teman untuk mencari rumah baru.

Hari ini mading sekolah begitu ramai, tidak tahu apa yang membuat manusia-manusia itu berteriak-teriak. Sepulang sekolah, ku putus kan untuk menengok . ada pamflet besar, dengan tulisan “selamat kepada aray, juara lomba xxx penemu bioelektrikal pengganti solar cell. Di mading ada vidoe tentang aray. Kemudian aku menekan tom bol klik dan akhirnya, kulihat sosoknya sedang berpidato tentang kemenangannya. Aku tidak tertari [ada penemuan-penemuan seperti ini namun ada sebat kata yang membat ku terinat “Banyak orang mengira bahwa masa depan adalah masa dimana mesin-mesin bertenaga robot bermunculan, teknologi-teknologi cangih bertebaran, negara-negara semakin maju dan rakyatnyasemakin merasa sejahtera. Namun di balik semua itu, planet kita merasa terancam, diambang kehancuran dan lain sebagainya.Apakah kita ini adalah generasi penerus masa depan? Atau generasi penerus  bumi?”. Benar, seperti planet yang ku tinggali dulu. Iya seperti itu, mungkin para manusia akan berfikir demikian. Mereka berfikir akan dapat menyelesaikan berbagai masalah yang mereka hadapi sekarang ini, kemiskinan, peperangan, krisis energi dan lain sebagainya dengan adanya teknologi yang semakin maju. Yang karena penemuan-penemunan mereka yang dapat memberikan perubahan yang besar. Akan tetapi, sebenarnya mereka hanya akan menyebabkan permasalahan yang baru pula.

Aku berjalan di sepanjang koridor ruangan,  ku lihat jam elektrik di dekat tangga. Sudah jam 09.00 malam. Sudah larut sekali, dan aku masih berkeliaran di tempat ini karena tugas pengamatan yang belum selesai. Aku naik ke lantai atas, ku hatrap dapat menemukan sesuatu yang lain di atas sana. Dan tidak ada apa-apa. Hanya langit gelap, penuh dengan polusi udara yang menjadi-jadi. Di ujung sana ada sebuah kota, iya itu kota ku kota metrolium. Tempat peradaban baru ku yang juga tempat persinggahan sementara lagi.

Aku mengeluarkan beberapa kertas dan sebuah pensil dari tas ku. Perlahan ku goreskan pensil hitam ke atas kertas putih itu. Aku ingin menggambar, bintang. Namun yang terlihat hanya awan, aku ingin menggambar hutan yang rimbun. Namun, hanya ada gedung tinggi yang menjulang. beberapa saat kemudian aku terkejut, cahaya senter siapa yang menyilau kan  mata ini. agak buram namun aku masih paham sosok di bukalang senter itu. Aray. Iya itu Aray, ada apa aray disini? Hah, pasti kau sudah tau jawabanya. Ya wajar saja seorang peneliti berjalan disekitar sekolah malam-malam  begini.

“apa yang sedang kau lakukan malam-malam begini?”

“hanya melihat bintang” jawabku

“bintang? Aneh kau ini. jika kau ingin melihat bintang bukan disini tempatnya. Kau tahu bukan, sudah tidak memungkinkan lagi jika kau ingin melihat bintaqng dengan mata telanjag disini. Sebaiknya kau pergi ke obsevatorium saja. Sebaiknya kau cepat turun kebawah,dari pada kau berurusan dengan penjaga sekolah nantinya”

Begitulah aray, orang yang baik anamun dia tak bisa menyampaikan nya dengan baik kepada orang lain. Sehingga banyak orang beranggapan bahwa dia orang yang kurang baik di mata teman-teman nya. Aku bersama aray berjalan menuruni tangga, sangat sepi sekali. Hanya terdengar langkah kaki saja. Aku hanya diam dan tak ingin memulai pembicaraan dengan nya. Mungkin dia juga berfikir seperti itu, namun juga tentu tidak bukan kah dia aray sang juara sekolah. Yang tentunya akan membuat hal-hal tak dapat di duga oleh orang-orang disekitarnya. Aray terus berjalan lurus menyusuri koridor ruangan, “ Aray, bukan kan ruang laboratoriun ada di sebelah sana” tanyaku sampbil menunjuk arah ruang laboratorium. “katanya kau ingin melihat bintang”. “kalau kau ingin melihat bintang, bukankah lebih baik datang ke planetarium dari pada hanya duduk tak jelas di atas balkon sekolah?” jawabnya. Aku hanya mengangguk.

“Planetarium, xxxxxxxxx”. Sampailah kami di ruangan  yang  gelap, namun ada berjuta hal di dalamnya. Kemudian aray membuka atap atras dari langit-langit planetarium ini.  “kau belum pernah  kesini bukan?” tanyanya. “belum!” sahutku. “tempat ini sebenarnya hanya di khususkan untuk siswa tingkat 5.  Namun, aku sering kesini untuk mengamati galaksi tempaat  tinggal ku dulu. Kau lihat galaksi yang terang disana itu. Itu namanya galaxsi “xxxxxxxx” dan aku tinggal disalah satu sisitem tata surya disana. Di sebuah planet bernama “xxxxx”. ”bukan kah kau orang pribumi dari palet ini aray?” “pribumi? Ah.. kau salah aku juga orang pindahan dari planet lain.” Ku mengangguk membenarkan perkataan aray. “araty kau lihat bintang pudar itu, dulu aku tinggal di sana dispanet bernama “xxxxx”.

 

————Cerita yang tak kan sempurna————

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s