“Produktivitas Madrasatul Ula, Kunci Sukses Pendidikan” Refleksi Hari Pendidikan Nasional

Posted on Updated on

2 May 2015 at 11:06

Dewasa ini, banyak masyarakat khususnya di Indonesia para orang tua di kalangan menengah ke atas yang seolah-olah mendewakan sekolah, sehingga perkembangan anak seperti pendidikan tata karma, belajar, ataupun yang lain hanya bisa dilakukan di sekolah. Telah tertanamkan pula mindset bahwa yang mendidik itu harus seorang guru yang ada di sekolah dan tugas orang tua hanya seolah membiayai pendidikan anaknya tanpa <!–more–> mendidiknya sehingga rata-rata keluarga saat ini banyak yang telah kehilangan fungsinya sebagai keluarga dan fungsi produktivitasnya pada perkembangan anak, padahal keluargalah madrasah pertama yang intens dalam mendidik dan mengembangkan potensi seorang anak.

 

Yang menjadi ironi lagi, saat ini sekolah-sekolah yang ada di Indonesia masih menerapkan dan meniru sistem pendidikan yang diterapkan oleh pemerintahan Inggris dalam revolusi industri dimana sekolah hanya disiapkan untuk menjadi pekerja dan pegawai di pabrik, sehingga sistem pendidikannya seperti yang ada pada pabrik dimana memiliki suatu standrat keberhasilan seperti kurikulum dimana ini merupakan suatu sistem yang memaksa seorang anak atau siswa untuk mengikutinya (outside in) bukan kurikulum yang mengikuti apa yang menjadi bakat minat dan ketrampilan anak sehingga ketika anak lulus sekolah  tidak ada yang unik darinya dan semua menjadi sama yaitu memiliki mentalitas pabrik.

Proses belajar mengajar pun sangat tidak sesuai dengan kondisi psikologis siswa. Murid hanya disuruh duduk diam mendengarkan apa yang disampaikan oleh guru seolah-olah mereka seperti batu sehingga tak ada siswa yang aktif dalam sistem belajar mengajar tersebut. Tak ada interaksi yang lebih antara siswa dan guru, bahkan tertanam jiwa seorang anak yang bertanya itu bodoh atau tidak mengerti apa yang disampaikan oleh guru, sehingga jarang pernah ada yang bertanya dalam sistem belajar mengajar tersebut. Akibatnya tak ada siswa yang mencari sumber pengetahuan lain baik dari buku atau internet melainkan yang didapat siswa hanyalah materi pelajaran yang akan disampaikan oleh guru di kelas.

 

Selain itu muncul anggapan suatu mindset pengkastaan suatu pelajaran juga di sekolah dimana dimulai tertinggi yaitu Sains (IPA), MTK, IPS, baru Seni dan yang terakhir Pendidikan Jasmani. Anggapan yang tertanam pada benak siswa adalah yang penting itu pintar sedangkan sehat dan ketrampilan itu tidak penting. Oleh karena itu tak sedikit siswa yang tidak mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang sesuai bakat dan minatnya.

Oleh karena itu, untuk mengatasi hal tersebut perlu dilakukan reformasi pendidikan dan mindset yang telah tertanam dalam masyarakat khususnya di dalam keluarga. Keluargalah yang merupakan madrasatul ula (pendidikan yang pertama dan utama) bagi perkembangan anak. Disini keluarga bukan hanya menjadi tempat anak meminta uang, dan tidur saja tapi harus bisa membuat anak merasa nyaman. Selain itu terus meningkatkan produktivitas keluarga seperti orang-orang dahulu dalam batik, menyulam, dan lain sebagainya sehingga ide-ide kreativitas anak mulai berkembang dan tidak hanya jadi anak yang suka menggantungkan diri pada orang tua tapi berani untuk mandiri dan ini akan menjadi bekal dalam hidupnya dimasa yang akan datang.

Disamping itu, di lingkungan sekolah juga para guru harus selalu memberi rangsangan motivasi dan dukungan kepada siswa-siswinya untuk berani bermimpi dan meraih cita-citanya. Para siswa pun juga harus menyadari bahwa ilmu pengetahuan tidak hanya didapat di kelas tetapi bisa didapat dari buku-buku pengetahuan lain dan juga perkembangan internet yang ada. Selain itu para siswa harus bisa mengembangkan bakat dan minat yang ada didalam dirinya melalui berbagai kegiatan ekstrakurikuler baik yang ada di sekolah maupun di lembaga-lembaga non formal lainnya.

Selain itu diperlukan juga peran pemerintah dalam mengatasi masalah ini serta merealisasikannya seperti dalam mengubah orientasi sekolah, memperbaiki tata kelola sekolah, memperkecil peran sentralistik pada kementerian pendidikan dan kebudayaan, tapi bisa dengan melaui pemandatkan kepada masing-masing daerah untuk mengaturnya kebijakannya dan peran kementerian hanya sebagai pengawas, serta dalam pembentukan dewan pendidikan nasional yang berfungsi untuk mengatur pendelegasian pendidikan di daerah-daerah yang ada di pelosok negeri dan memberantas gejala bentuk korupsi sistemik yang terjadi dalam sektor pendidikan. Sehingga ketika suatu sistem pendidikan telah baik dan menjadi engine of growth, maka dapat meningkatkan kualitas dan kualifikasi sumber daya manusia sehingga masyarakat dapat berkembang dan dapat mewujudkan pembangunan nasional yang menjadikan negara dapat menjadi maju. Oleh karena itu ketika suatu negara ingin maju maka para pemudalah yang menjadi perhatian, sehingga ketika pemudanya rusak dan buruk akhlaknya maka sudah dapat dipastikan rusaklah negara tersebut.

 

#InspiratorPendidikanMelaluiTulisan

#CerdaskanBangsaku

#BidikmisiUntukIndonesia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s