Month: May 2016

Esensi dari Menanam

Posted on

Biji buah yang dimasukkan ke dalam lubang, kemudian ditimbun tanah, mungkin merasa hidupnya sudah gelap sekali. Sendirian. Untuk esok-lusa, dia akhirnya menyaksikan, tubuhnya tumbuh, membesar, tinggi, kuat, menjulang kemudian bisa menatap sekitar yang begitu indah. Bermanfaat bagi sekelilingnya.

Begitulah kehidupan kita. Barangsiapa yang merasa merana sekali, seperti dimasukkan dalam lubang gelap masalah kehidupan. Maka, insya Allah, boleh jadi Allah sedang mempersiapkan kita agar jadi pohon yang tinggi menjulang besok lusa. Bermanfaat bagi sekitarnya.

*Tere Liye

Advertisements

“Matahari Untuk Aray” [cerita tak sempurna]

Posted on Updated on

Hujan lagi-lagi menguyur planet ini, planet yang baru saja ku huni beberapa bulan lalu. Rumah bagi jutaan makhluk hidup yang menghuninya. hujan memberikan harapan dan kehidupan baru bagi kehidupan di bawah tanah. Dan beginilah hujan yang selalu membawa sejuta pertanyaan padaku, membawa kebahagiaan dan kesedihan. Langkah ku gontai, aku berjalan di sepanjang jalan kecil menuju ruangan kelas. Terasa berat, hampir seperti aku menyeret kaki yang di tali sangat  kuat. Aku ori, seorang gadis pendiam “kata temanku”. Walapun dulu aku tidak seperti ini,  namun akhirnya  kenapa aku menjadi seorang yang seperti ini. Read the rest of this entry »

LKMM-TD

Posted on Updated on

Akhir-akhir ini diUNDIP, terutama di FSM di sibukan dengan kegiatan LKMM-PD. LKMM-PD merupakan salah satu alur dari acara LKMM di UNDIP. Berrbeda dengan LKMM sebetumnya (LKMM PD) yang membahas fokus tentang manajemen kepribadian mahasiswa, pada LKMM TD ini berfokusnya sudah ke ranah bagaimana cara untuk me-management kegiatan organisasi. Sehingga, jika LKMM PD yang ikut seluruh mahasiswa baru sedangkan untuk LKMM TD yang hanya boleh mengikuti adalah orang-orang yang sudah aktif di organisasi.

Mayoritas yang mengikuti kegiatan ini sebagian besar adalah mahasiswa yang berkemungkinan besar untuk menjadi petinggi di organisasinya , istilah pengkaderannya menjadi seorang “fungsionaris”. Namun, dalam kenyataan nya yang saya lihat disini,  mahasiswa yang cenderung di terima saat roses wawancara adalah orang-orang yang niatannya bukan secara terang-terangan untuk menjadi seorang fungsionaris, melainkan lebih kearah motivasi dalam diri mereka sendiri. Walaupun, alasannya juga masih homogen, meng upgrade diri sampai berharap mempunyai skill lebih untuk mengembangkan diri.

Saya sendiri, untuk tahun ini sepertinnya tidak ada niatan untuk mengikuti LKMM TD. Walaupun dikampus saya sendiri terkenal sebagai salah satu kampus paling bagus masa kaderisasi dan LKMM nya diantara kampus di UNDIP. Tapi, yah ungkin belum diberikan hidayah dari yang maha kuasa. Atau karena saya juga sepertinya juga nggak terlalu njelimet dan menginginkan kekuasaan yang berlebihan di dunia kampus.

Yang saya harapkan dari anak-anak TD adalah outcame yang baik. Memberikan dampak positif bagai seluruh warga FSM, bukan hanya organisasi yang mereka ikuti saja, lebih-lebih kalau mau berbagi ilmu mereka dengan seorang “saya” yang tidak m engikuti apa-apa ini,

Merenung

Posted on

Sebanyak dzikir kita kepada Allah mungkin tidak akan pernah mengalahkan dzikirnya gunung-gunung kepada Allah. Setakwa kita kepada Allah mungkin tidak akan pernah mengalahkan takwanya burung-burung yang terbang dan tunduk pada ketetapan-Nya.

Jadi darimana kita bisa menyombongkan diri? Darimana kita bisa mengakui bahwa diri kita beriman? Yang iman kita juga mungkin tidak akan pernah mengalahkan imannya pepohonan kepada Allah. Lalu, mengapa kita saling menghakimi keimanan seseorang? Mengukur keimanan dari jumlah hafalan? Dari panjang pendeknya kerudung? Dari sesuatu yang sebenarnya menjadi rahasia besar antara hamba dan Tuhannya.

Tugas kita adalah menjadi hamba yang baik, kan? Tidak bisakah kita senantiasa menjaga prasangka baik? Tidak bisakah kita baik kepada semua makhluk-Nya? Juga menegaskan yang hak dan yang bathil.

Keterbatasan yang Membatasi

Posted on Updated on

kemarin, 13-15 Mei 2016. telah di adakan Training Rohis 2.

setelah usai acara tersebut ternyata masih banyak tanda tanya yang hinggap di pikiranku. tentang diriku sendiri, tentang kontribusi, tentang aktivis dakwah atau tentang segalka hal yang akan ku lakukan di kampus perjuangan ini.

apakah aku akan terus berjuang di jalan ini? sepertinya ia aku akan mulai berjuang di jalan ini. naman akannkah yang kulakukan akan berrnar dan sungguh-sungguh? barangkali bisa ia dan bisa tidak. terlebih ketika menengok kedalam Read the rest of this entry »

“Produktivitas Madrasatul Ula, Kunci Sukses Pendidikan” Refleksi Hari Pendidikan Nasional

Posted on Updated on

2 May 2015 at 11:06

Dewasa ini, banyak masyarakat khususnya di Indonesia para orang tua di kalangan menengah ke atas yang seolah-olah mendewakan sekolah, sehingga perkembangan anak seperti pendidikan tata karma, belajar, ataupun yang lain hanya bisa dilakukan di sekolah. Telah tertanamkan pula mindset bahwa yang mendidik itu harus seorang guru yang ada di sekolah dan tugas orang tua hanya seolah membiayai pendidikan anaknya tanpa <!–more–> mendidiknya sehingga rata-rata keluarga saat ini banyak yang telah kehilangan fungsinya sebagai keluarga dan fungsi produktivitasnya pada perkembangan anak, padahal keluargalah madrasah pertama yang intens dalam mendidik dan mengembangkan potensi seorang anak.

 

Yang menjadi ironi lagi, saat ini sekolah-sekolah yang ada di Indonesia masih menerapkan dan meniru sistem pendidikan yang diterapkan oleh pemerintahan Inggris dalam revolusi industri dimana sekolah hanya disiapkan untuk menjadi pekerja dan pegawai di pabrik, sehingga sistem pendidikannya seperti yang ada pada pabrik dimana memiliki suatu standrat keberhasilan seperti kurikulum dimana ini merupakan suatu sistem yang memaksa seorang anak atau siswa untuk mengikutinya (outside in) bukan kurikulum yang mengikuti apa yang menjadi bakat minat dan ketrampilan anak sehingga ketika anak lulus sekolah  tidak ada yang unik darinya dan semua menjadi sama yaitu memiliki mentalitas pabrik.

Proses belajar mengajar pun sangat tidak sesuai dengan kondisi psikologis siswa. Murid hanya disuruh duduk diam mendengarkan apa yang disampaikan oleh guru seolah-olah mereka seperti batu sehingga tak ada siswa yang aktif dalam sistem belajar mengajar tersebut. Tak ada interaksi yang lebih antara siswa dan guru, bahkan tertanam jiwa seorang anak yang bertanya itu bodoh atau tidak mengerti apa yang disampaikan oleh guru, sehingga jarang pernah ada yang bertanya dalam sistem belajar mengajar tersebut. Akibatnya tak ada siswa yang mencari sumber pengetahuan lain baik dari buku atau internet melainkan yang didapat siswa hanyalah materi pelajaran yang akan disampaikan oleh guru di kelas.

 

Selain itu muncul anggapan suatu mindset pengkastaan suatu pelajaran juga di sekolah dimana dimulai tertinggi yaitu Sains (IPA), MTK, IPS, baru Seni dan yang terakhir Pendidikan Jasmani. Anggapan yang tertanam pada benak siswa adalah yang penting itu pintar sedangkan sehat dan ketrampilan itu tidak penting. Oleh karena itu tak sedikit siswa yang tidak mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang sesuai bakat dan minatnya.

Oleh karena itu, untuk mengatasi hal tersebut perlu dilakukan reformasi pendidikan dan mindset yang telah tertanam dalam masyarakat khususnya di dalam keluarga. Keluargalah yang merupakan madrasatul ula (pendidikan yang pertama dan utama) bagi perkembangan anak. Disini keluarga bukan hanya menjadi tempat anak meminta uang, dan tidur saja tapi harus bisa membuat anak merasa nyaman. Selain itu terus meningkatkan produktivitas keluarga seperti orang-orang dahulu dalam batik, menyulam, dan lain sebagainya sehingga ide-ide kreativitas anak mulai berkembang dan tidak hanya jadi anak yang suka menggantungkan diri pada orang tua tapi berani untuk mandiri dan ini akan menjadi bekal dalam hidupnya dimasa yang akan datang.

Disamping itu, di lingkungan sekolah juga para guru harus selalu memberi rangsangan motivasi dan dukungan kepada siswa-siswinya untuk berani bermimpi dan meraih cita-citanya. Para siswa pun juga harus menyadari bahwa ilmu pengetahuan tidak hanya didapat di kelas tetapi bisa didapat dari buku-buku pengetahuan lain dan juga perkembangan internet yang ada. Selain itu para siswa harus bisa mengembangkan bakat dan minat yang ada didalam dirinya melalui berbagai kegiatan ekstrakurikuler baik yang ada di sekolah maupun di lembaga-lembaga non formal lainnya.

Selain itu diperlukan juga peran pemerintah dalam mengatasi masalah ini serta merealisasikannya seperti dalam mengubah orientasi sekolah, memperbaiki tata kelola sekolah, memperkecil peran sentralistik pada kementerian pendidikan dan kebudayaan, tapi bisa dengan melaui pemandatkan kepada masing-masing daerah untuk mengaturnya kebijakannya dan peran kementerian hanya sebagai pengawas, serta dalam pembentukan dewan pendidikan nasional yang berfungsi untuk mengatur pendelegasian pendidikan di daerah-daerah yang ada di pelosok negeri dan memberantas gejala bentuk korupsi sistemik yang terjadi dalam sektor pendidikan. Sehingga ketika suatu sistem pendidikan telah baik dan menjadi engine of growth, maka dapat meningkatkan kualitas dan kualifikasi sumber daya manusia sehingga masyarakat dapat berkembang dan dapat mewujudkan pembangunan nasional yang menjadikan negara dapat menjadi maju. Oleh karena itu ketika suatu negara ingin maju maka para pemudalah yang menjadi perhatian, sehingga ketika pemudanya rusak dan buruk akhlaknya maka sudah dapat dipastikan rusaklah negara tersebut.

 

#InspiratorPendidikanMelaluiTulisan

#CerdaskanBangsaku

#BidikmisiUntukIndonesia

Arti Baik

Posted on

Kebaikan tidak dimaknai sama oleh semua orang, melainkan berbeda. Antara satu orang dengan yang lain memiliki definisi tersendiri tentang kata baik. Definisi yang lahir dari akumulasi pengalaman hidup, ilmu pengetahuan yang didapat, idealisme, impian, ketakutan, dan keyakinan.

Kalau ingin tahu bagaimana kebaikan itu bagi orang lain, tanyalah. Kalau ingin tahu tentang kebaikan yang mereka ingin dapat, tanyalah. Karena seringkali apa yang kita lakukan tanpa kita sadari justru menyakiti perasaan mereka. Padahal bagi kita, dalam pandangan kita, kita melakukan hal-hal baik.

Ada saja alasan untuk berbuat baik, tapi juga ada begitu banyak alasan untuk menolak kebaikan. Luas hati setiap orang berbeda, lapangnya ego pun berbeda. Kadang karena tidak begitu luas, kita tidak bisa masuk sama sekali, tertolak bahkan sebelum berjuang untuk mengetuk pintu hatinya.