Kisah Ustadz

Posted on

kisah pilu seorang ustadku di sekolah dulu, beliau yang mengenalkanku tentang asyiknya pelajaran fisika , memberi inspirasi dan motivasi hingga sekarang saya menjadi mahasiswa fisika. Semoga beliau sekeluarga selalu diberi kebahagiaan dan kelancaran rejeki. Amin

‪#‎SECUIL ‪#‎MASA ‪#‎KELAMKU
Cerita ini adalah kisah hidupku, kuceritakan kembali hanya untuk memberi semangat kepada teman-temanku yang kehilangan orang tercinta. Setiap orang pasti pernah terpuruk dan terjebak dalam jurang kesedihan, tetapi jangan biarkan keterpurukan dan jurang ini menenggelamkan kita. Jadikan keterpurukan dan jurang ini sebagai wahana untuk belajar meloncat, meloncati setiap kesusahan dalam kehidupan. Maka bersemangatlah dan jangan perputus asa.

Saat itu usiaku 10 tahun, karena himpitan kemiskinan dan jeratan rentenir kedua orang tua dan dua kakakku merantau entah ke mana. Mereka jarang sekali pulang, kalaupun pulang biasanya tengah malam dan berangkatnyapun sebelum matahari terbit…katanya mereka takut ditagih utang. Aku tinggal di rumah bertiga dengan kakak dan adikku yang berusia 6 tahun. Tinggal bertiga tidaklah mudah karena kami harus mencari makan sendiri, orang tua kami tidak meninggalkan bekal yang cukup untuk kami makan. Lapar adalah makanan kami sehari-hari.

Hari itu seperti biasa, sepulang sekolah aku bekerja mencari ikan untuk dijual dan dibelikan sepiring nasi. Adikku selalu menemaniku kemanapun aku pergi, dia adalah adik perempuanku satu-satunya dari lima bersaudara, kesekolahpun dia ikut. Tetapi hari ini aku mengambil keputusan yang akan kusesali seumur hidupku. “Duk kamu pulang dulu matamu sakit itu lho…kamu istrirahat saja dirumah bersama kakta…” ucapku. “Ndak mau aku mau di sini saja…aku mau ikut pean nyari ikan di sini” jawabnya. Dengan nada agak tinggi aku memaksanya pulang “Duk…kalau kamu di sini matamu nanti tambah parah nanti tambah sakit….kamu pulang dulu kakak janji nanti tak belikan obat mata” akhirnya adikku terpaksa pulang dengan wajah cemberut.

Siang itu kupanjatkan doa semoga hari ini aku mendapat ikan yang melimpah dan dapat beli obat mata “AITO”. Allah mengabulkan doaku, setelah sore hari aku mendapat ikan satu ember, aku langsung berlari dengan penuh kebahagian menuju pasar di pinggir desa. Di pasar itu aku mendapatkan uang yang cukup lumayan dan sebagian ku belikan AITO. Ku pegang obat mata itu dengan rasa bangga, aku berjalan pulang sambil bersiul-siul kecil “Alhamdulillah akhirnya aku bisa beli obat mata…semoga adikku senang” gumamku. Tak berapa lama aku sampai di rumah, kulihat pintu depan tertutup dan terkunci. Ku coba memanggil kedua saudaraku “ KAK….pean di mana…DUUK…..” tidak ada jawaban sama sekali.
Aku merasa kuatir..dan berlari menuju pintu belakang, ternyata pintu belakang tidak terkunci, akupun masuk dan di sana kulihat…kakak dan adikku tergeletak di tanah bersimbah kotoran dan muntahan. Aku takut sekali kemudian keduanya ku angkat ke ranjang bambu. “Kenapa duk…kok bisa begini…Kak …kamu makan apa?” mereka berdua tidak menjawab. Kebahagian dan kebanggaanku hilang musnah berubah ketakutan yang mencekam. Bagaimanapun juga aku hanya anak kecil, aku tak tahu harus berbuat apa, hanya kubersihkan badan kedua saudaraku sambil berlinang air mata. Kedua saudaraku terus muntah dan buang air besar, aku hanya menangis dan membersihkan kotoran yang terus keluar.

Kira-kira pukul 07.00 malam tiba-tiba datang paklekku…”Lho kenapa ini” ucapnya, sambil menangis aku minta supaya dipanggilkan orang tuaku..kemudian bergegas paklekku berangkat. Kami hanya sendirian tentanggaku rata-rata orang kaya dan tak ada yang menyukai kami karena kami anak orang miskin, aku tak tahu mengapa mereka begitu membenci kami padahal kami tidak pernah mengganggu mereka. Waktu begitu lambat…kupeluk erat adikku yang mulai membiru…”Mboke…kenapa engkau begitu lama…lihatlah anakmu ini”. Tepat pukul 11 malam kedua orang tuaku tiba…tapi semua sudah terlambat adikku sudah membiru dan meninggal, hanya kakakku yang bisa dibawa ke rumah sakit dan selamat.

Aku terpaku dan kehabisan air mata, aku sangat membenci diriku…andaikan saja ku ijinkan dia tetap bersamaku …mungkin dia tidak akan mati. Penyesalan ini selalu menghantuiku….hari-hariku hanya ku isi dengan menangis..tak ada yang tahu mengapa aku menangis… mereka hanya bisa mencela. Tiap sore aku pergi ke makam adikku dan menangis di atasnya. “Duk maafkan aku” hidupku terasa tidak ada gunanya lagi hingga kuputuskan untuk mengakhiri hidupku ini. Ku harap dengan mengakhiri hidupku aku bisa menebus kesalahanku dan bertemu dengan adikku. Akupun naik ke pohon tertinggi yang ada di makam, sesampai di puncak aku melompat …kuharap kepalaku pecah dan aku mati. “BRUUKKK….” aku pingsan beberapa lama dan ketika bangun ternyata aku belum berpindah alam aku masih di dunia dan hidup, yang kurasakan hanya sakit luar biasa di bahu dan kakiku. “Kenapa aku tidak mati ?” gerutuku.

Tak puas dengan itu, ketika guru IPA ku bilang “..otot berwarna biru itu nadi anak-anak…kalian harus hati-hati jangan sampai terluka karena bisa berbahaya” sesampai di rumah aku langsung mencari sebilah pisau dan berangkat ke tempat sepi. Aku menuju Rawa Utara, setelah ku pastikan tidak ada orang kemudian kuiris otot biru di lengan kiriku. Darah mengalir deras…aku pun berbaring sambil tersenyum berharap segera ketemu dengan adikku. Entah aku pingsan atau tertidur…saat aku bangun, hari sudah malam, badanku gontai, aku berdiri dan kulihat darah yang keluar semua sudah mengering, aku kebingungan kenapa aku tidak mati?…

Berkali-kali ku coba mengakhiri hidupku tapi hasilnya aku tetap hidup…hingga akhirnya aku menyadari bahwa NYAWA yang ada dalam tubuh ini adalah milik ALLAH dan hanya ALLAH yang bisa mengambilnya. Kematian bukanlah kematian…kematian adalah kehidupan yang nyata, kematian adalah sebenar-benarnya hidup. Orang yang kita cintai tidaklah mati mereka hanya menuju ke kehidupan yang sebenarnya, tak ada yang perlu ditangisi karena mereka bahagia di dunia mereka dan jika tiba waktunya kita pasti akan bertemu dengan mereka kembali. Kesadaran ini membawaku kembali ke dunia baru..aku sanggup berdiri tegak di pinggir makam adikku dan berjanji “AKU TIDAK AKAN MENYERAH DAN AKAN TERUS BERJALAN”.

#Ustadz Abdul Wahab
#SMP Negeri 1 Sekar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s