Ayah

Posted on Updated on

ada suatu ketika aku selalu mengingat ayah ku..
saat itu tepat perpulangan dari asrama. hari sabtu sore. waktu menunjukan pukul 16.00 teman-teman sudah hilir mudik meninggalkan asrama. hari itu cuaca sedang tak bersahabat. langit sudah mulai menyuruh rintikan rujan untuk jatuh dan menghujani bumi.
tapi, aku. ya seperti biasa aku hanya mengamati, dan tersenyum sembari menitipkan salam kepada ayah ibunda teman-teman ku yang pulang. “hmm… ayah, kenapa lama sekali ya. apa sms nya nggak masuk atau gimana ya??” aku mulai resah waktu semakin berlalu. ku lihat jam dinding asrama yang kala itu menunjukan pukul 17.00. “waduh aku, sendirian sudah tak ada lagi yang di asrama”. Ku coba untuk keluar.asrama sudah tak ada hirup-pikuk kendaraan orang tua wali.

akhirnya aku, putuskan untuk naik ke asrama lantai tiga. ku temui sesosok gadis “loh de, kamu belom pulang?” “#belum, mbak. kakak masih ada urusan sebentar, jadi njemputnya agak telat sedikit”
“dek, nanti kalau anti di jemput aku pinjam HP nya ya??”. maklum saja saat itu memang tidak di perbolehkan membawa alat komonikasi dalam bentuk apapun. jadi mayoritas anak-anak asrama hanya mengandalkan HP pinjaman dari orang tua yang menjenguk anak nya.

aku mencoba menghubungi ayah, nomer ini tidak bisa. atau pakai nomer yang baru ya???. “duuttt..duttt… halo assalamualaikum…” , alhamdulillah. ayah mengangkat telepon ku.
entah ini, kenapa? ayah tidak tahu sama sekali kalau hari ini aku pulang. akhirnya ayah bergegas menjemputku. pukul 18.15 ayah sampai di asrama, langit sudah gelap dan sedikit rintik-rintik hujan. aku, hanya tersrenyum melihat ayah “jujur, aku sedikit merasa marah tetapi melihat ayah basah kuyup karena hujan. tiba-tiba cairan bening dari mataku mulai menetes… tapi tidak sebisa mungkin harus ku tahan”.

ketika, sampai di tengah hutan. tiba-tiba lampu sepeda ayah mati. ayah sontak mulai kebingungan. terutama aku yang takut di tengah hujan yang begitu lebat dan gelap. memang rumah ku dari asrama lumayan jauh butuh waktu sekitar 1 jam 30 menit untuk menempuhnya.
tak jauh dari hutan tersebut, kami menjumpai sebuah perkampunyan. untung sekali disana ada salah satu toko yang masih buka. ku amati sekitar perkampungan itu, gelap juga nampaknya mati lampu yang diakibatkan sebatang pohon telah menjatuhkan tiang listrik.

kami membeli sebuah senter, aku disepanjang jalan berusaha menerangi jalan ayah dengan menggunakan senter tersebut. memang masih tidak terlalu terang. hanya sebagian jalan saja yang bisa terlihat di tengah hujan deras.
saat itu, entah apa yang kupikir. aku hanya bisa menangis… melihat usaha keras ayah untuk menjemput anak gadisnya. anak gadis yang hanya mampu menghabiskan uang ayah…
anak yang hanya meminta.. ini.. meminta.. itu

tanpa tahu ada sesosok ayah yang suadah susah payah untuk membahagiakan anaknya.

ingatlah.. teman-teman ku
jika ayah kalian masih ada, bahagiakan lah beliau. jangan mengeluh ini.. itu..
lakukan usaha kalian semaksimal mungkin untuk mereka
jauh? iya kita memang jauh. kalian sedang di tempat kalian dan beliau sedang di rumah entah sedang apa? sedang membicarakan kalian dengan sang khalik dalam doanya. atau sedang mencari nafkah untuk kalian yang sedang merantau di luar kampung.

sebagai anak aku merasa sama sekali belum bisa membalas segalanya darinya, yang ada hanyalah menyusahkan saja, jika kita menelfon dan mengadu uang bulanan telah habis, dengan cepat ayah ibu mentransfer bahkan sebelum aku minta aja uang telah ditransfer, itu semua demi apa teman? demi apa lagi? mereka takut kalau anaknya yang dikota orang kekurangan, mereka khawatir akan keadaan anaknya, tapi pernahkah berfikir dari mana uang itu? dari mereka memeras keringat, lalu pernahkah terfikirkan apa yang mereka makan? mungkin ketika sang anak pulang segala macam makanan yang kita sukai diberikan tapi ketika kita tidak ada apakah mereka akan makan hal yang sama atau sebaliknya?

seringkali kita mengeluh ketika tugas yang tak ada hentinya, kegiatan yang begitu padatnya, dosen yang meraja, bagi anak rantau yang nggak memiliki kendaraan mengeluh karena letih menunggu angkot yang tak kunjung datang, tapi ingatlah teman semua itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan letihnya ayah dan ibu, tubuh yang semakin melemah, umur yang menua, tapi mereka dengan ikhlas membanting tulang untuk keluaganya, untuk anaknya, untuk aku, untuk kalian sebagai anak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s