Bojonegoro di Semarang pun Berbeda

Posted on Updated on

Dilihat dari segi namanya sudah berbeda, apalagi dari sisi yang lainnya seperti kebudayaan, Lingkungan dan dari Bahasa keseharian pasti jauh berbeda juga. Di semarang ini, kurang lebih selama satu semester banyak lah hal-hal baru yang saya dapet apa lagi dari segi Bahasa. Yang saya lihat selama ini banyak pendapat yang menyatakan, orang-orang dari jawa timur penggunaan nya sedikit (maaf) kasar. Saya juga nggak tau ya, tapi yang saya rasakan selama ini anak bojonegoro-an bahasanya santun-santuk kok lemah lembut [haha…], dan beda dengan orang surabaya-nan yang lebih over dari orang Bojonegoro sendiri [dari pandangan saya]. Nah di UNDIP sendiri, banyak sekali saya temui perbedaan bahasa itu sendiri. Iya lah kan namanya juga kampus, orangnya heterogen. Dari bermacam-macam daerah di Indonesia. Ada yang pakek Bahasa Jawa, Bahasa Sunda, bahasa nggak tau namanya (orang-orang yang dari luar jawa), bahasa anak Jakarta dan sekitarnya (yang biasanya pakai lo, gue nan), bahasa Ngapak (orang-orang Kebumen, Cilacap) dan masih banyak lagi.
Diantara bahasa yang banyak itu, ada satu bahsa yang menurut saya unik, karena saya juga belum pernah tahu kalau bahasa yang kyk gitu juga ada. Namanya “Bahasa Ngapak”. Apa itu bahasa ngapak? Bahasa nya sedikit berbeda dengan bahasa jawa, dan mayoritas pengguna bahasa ini adalah anak-anak disepanjang perbatasan Jawa Tengah – Jawa Barat [koreksi lagi kalau salah 😀 ] . beberapa contoh perbedaan antara Bahasa Bojonegoro-an dan bahasa Ngapak [ berdasarkan pendapat dan gaya bicara saya sendiri]
Bojonegoro       Ngapak        Indonesia
gak iso                ora bisa         Tidak Bisa
Piye                    Kepriwe         Bagaimana
Sawanganne    Ketoke           Kelihatannya
Cah kene           Deweke           Kita
Mangan           Madang          Makan
NB: bahasa yang di tulis tersebut adalah sesuai dengan kepemahaman saya, apabila ada perbedaan dan kesalahan penulisan, arti dan pelafalan mohon dimaklumi.
Tulisan ini bukan bermaksud membandingkan mana bahasa yang paling baik atau bahasa yang paling benar. Tapi ini hanya ingin membuktikan bahwa bahasa di Indonesia ini beragam, saat berbica dengan sesam
a daerah asal (pastinya bahasa kesehariannya juga lumayan sama, bahkan sama), menggunakan bahasa daerah lebih komunikatif. Tapi kalau sudah dalam suatu diskusi kecil-kecilan (anggapaja hanya 1 orang yang bukan sedaerah) pastikan juga nggak seru. [pernah ketika masih naik angkot bareng-bareng pulang kuliah, saat itu aku dan dua orang temen (yang kebetulan mereka sama ngapaknya). Awalnya di angkot ngobrolnya pakai Bahasa Indonesia, dan tiba-tiba beralih ke ngapak. Aku yang kurang tahu Bahasa Ngapak (soale aku yo jo
wo tulend -_-). Hanya bisa senyum menaggapi omongan mereka, yang cepet dan vokalnya mayoritas diganti “a” (mau ikut nanggepin juga bigung, mau pakai bahasa indonesia juga salah room. Duarr… serba salah kan). saya rasa kalian juga pernah mengalami kejadian yang serupa, namun berbeda.].
Apalagi dalam sebuah forum besar, contohnya Diskusi Angkatan setiap orang menggunakan bahsa derah masing-masing (dan disini didominasi oleh orang jawa) jadi malah kasihan yang nggak ngerti bahasanya, bahkan malah jadi ribut [tapi, tenang aja ini nggak kejadian kok 😀 ]. Nah, disini peran dari Bahasa Indonesia itu sendiri sebagai bahasa nasional, yang menyatukan perbedaan-perbedaan bahasa antar daerah.

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s